web stats seowaps

Jumat, 14 Juni 2013

Mawar yang Kehilangan durinya

Karya: Nur Asiah

            Sudah kuduga akan seperti ini, menunggu adalah hal yang paling membosankan menurutku. Kemana dia? Suka sekali membuang-buang waktu seperti ini. Saat aku sudah berada pada titik jenuh untuk menunggu, tiba-tiba seorang wanita sebaya menghampiri mejaku dan duduk dengan santainya. Lia menjelaskan alasan keterlambatannya padaku ketika melihat wajahku yang tertekuk.
            Kami sudah 3 tahun tidak bertemu, banyak sekali yang berubah dari dirinya. Terakhir kali kita bertemu saat pelepasan madrasah tsanawiyah. Dia menggenggam tanganku dan berkata bahwa kita akan terus berjuang dan mengingatkanku agar selalu  bersemangat tetapi aku hanya tersenyum padanya.
Aku sangat kagum padanya, walau hidup tak berkecukupan tetapi dia tetap semangat dalam hal apapun, memiliki optimisme yang tinggi dan sangat berprinsip. Seorang remaja muslimah yang sangat menjaga diri, dia selalu berusaha untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak berguna. Dia sangat tidak suka mengobrol dengan laki-laki, berpacaran dan melakukan aktivitas lain yang tidak penting dengan laki-laki, hal yang saat itu menjadi ‘trendsetter’ dikalangan kami. Bagaikan bunga mawar, indah namun tak bisa sembarangan untuk disentuh.
            Aku terlarut dalam lamunanku mengingat masalalu, lia menegorku dan kemudian kami bernostalgia bersama. Dia menceritakan semua yang telah dilaluinya. Yah dia memang agak cerewet, oleh karena itu aku hanya mengalah dan mendengarkannya. Selain itu, aku juga ingin tau sebab perubahan besar yang terjadi pada dirinya.
            Air matanya terus mengalir dan tak berhenti saat dia bercerita. Pengalaman hidup yang sangat mengharukan, ayahnya meninggal dan ibunya pergi meninggalkan dia tanpa pamit. Setelah itu dia hanya menggantungkan hidupnya pada jalanan. Mengemis dan membuang harga dirinya untuk dapat bertahan hidup di ibu kota. Aku tak bisa berkata apa-apa, sebagai seorang sahabat seharusnya aku membantu dia untuk bisa keluar dari masalahnya. Tetapi aku hanya diam, dan tak tau harus berbuat apa untuk mendiamkannya. Lia menatapku dan berkata seolah bisa membaca pikiranku “ tak usah berwajah seperti itu, sahabatku. ketika kau mau mendengarkanku aku sudah sangat senang, terima kasih”

            Setelah menarik napas panjang,  Lia kemudian berdiri dan meninggalkanku yang masih terdiam. Aku melihat kepergiannya, dan berpikir bahwa dia memang sudah berubah. Kerudung panjang yang dulu selalu ia pakai, sudah tidak dikenakannya lagi. Baju longgar dan rok lebarnya sudah berganti dengan kemeja ketat dan levis pendek. Wajahnya yang polos dan menyejukkan ditutupi dengan make-up yang tebal sekarang. Sungguh, aku sangat kecewa dengannya. Lia yang sekarang bak mawar yang kehilangan durinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar