Karya: Nur Asiah
Sudah kuduga akan seperti ini,
menunggu adalah hal yang paling membosankan menurutku. Kemana dia? Suka sekali
membuang-buang waktu seperti ini. Saat aku sudah berada pada titik jenuh untuk
menunggu, tiba-tiba seorang wanita sebaya menghampiri mejaku dan duduk dengan
santainya. Lia menjelaskan alasan
keterlambatannya padaku ketika melihat wajahku yang tertekuk.
Kami
sudah 3 tahun tidak bertemu, banyak sekali yang berubah dari dirinya. Terakhir
kali kita bertemu saat pelepasan madrasah tsanawiyah. Dia menggenggam tanganku
dan berkata bahwa kita akan terus berjuang dan mengingatkanku agar selalu bersemangat tetapi aku hanya tersenyum
padanya.
Aku sangat kagum padanya, walau hidup tak berkecukupan tetapi dia tetap semangat dalam hal apapun, memiliki optimisme yang tinggi dan sangat berprinsip. Seorang remaja muslimah yang sangat menjaga diri, dia selalu berusaha untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak berguna. Dia sangat tidak suka mengobrol dengan laki-laki, berpacaran dan melakukan aktivitas lain yang tidak penting dengan laki-laki, hal yang saat itu menjadi ‘trendsetter’ dikalangan kami. Bagaikan bunga mawar, indah namun tak bisa sembarangan untuk disentuh.
Aku sangat kagum padanya, walau hidup tak berkecukupan tetapi dia tetap semangat dalam hal apapun, memiliki optimisme yang tinggi dan sangat berprinsip. Seorang remaja muslimah yang sangat menjaga diri, dia selalu berusaha untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak berguna. Dia sangat tidak suka mengobrol dengan laki-laki, berpacaran dan melakukan aktivitas lain yang tidak penting dengan laki-laki, hal yang saat itu menjadi ‘trendsetter’ dikalangan kami. Bagaikan bunga mawar, indah namun tak bisa sembarangan untuk disentuh.
Aku terlarut dalam lamunanku
mengingat masalalu, lia menegorku dan kemudian kami bernostalgia bersama. Dia
menceritakan semua yang telah dilaluinya. Yah dia memang agak cerewet, oleh
karena itu aku hanya mengalah dan mendengarkannya. Selain itu, aku juga ingin
tau sebab perubahan besar yang terjadi pada dirinya.
Air matanya terus mengalir dan tak berhenti saat dia bercerita. Pengalaman
hidup yang sangat mengharukan, ayahnya meninggal dan ibunya pergi meninggalkan
dia tanpa pamit. Setelah itu dia hanya menggantungkan hidupnya pada jalanan. Mengemis
dan membuang harga dirinya untuk dapat bertahan hidup di ibu kota. Aku tak bisa
berkata apa-apa, sebagai seorang sahabat seharusnya aku membantu dia untuk bisa
keluar dari masalahnya. Tetapi aku hanya diam, dan tak tau harus berbuat apa
untuk mendiamkannya. Lia menatapku dan berkata seolah bisa membaca pikiranku “
tak usah berwajah seperti itu, sahabatku. ketika kau mau mendengarkanku aku
sudah sangat senang, terima kasih”
Setelah menarik napas panjang, Lia kemudian berdiri dan meninggalkanku yang
masih terdiam. Aku melihat kepergiannya, dan berpikir bahwa dia memang sudah
berubah. Kerudung panjang yang dulu selalu ia pakai, sudah tidak dikenakannya
lagi. Baju longgar dan rok lebarnya sudah berganti dengan kemeja ketat dan
levis pendek. Wajahnya yang polos dan menyejukkan ditutupi dengan make-up yang
tebal sekarang. Sungguh, aku sangat kecewa dengannya. Lia yang sekarang bak
mawar yang kehilangan durinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar